SERUYAN, ProBorneo.id – Kabut asap kian hari bukannya berkurang, malah sebaliknya, semakin pekat menyelimuti langit Kalimantan Tengah. Pagi yang seharusnya cerah kini berubah menjadi kelam keabu-abuan.
Mata perih, napas sesak, dan jarak pandang yang terbatas menjadi pemandangan sehari-hari yang harus kita telan pahit. Melihat kondisi ini, banyak masyarakat berharap ada tindak tegas terhadap para pelaku pembakaran hutan dan lahan. Bukan lagi sekadar imbauan atau spanduk larangan membakar, tetapi penegakan hukum yang benar-benar membuat jera.
Sebab selama pelaku masih bebas berkeliaran, asap akan terus menjadi langganan tahunan yang menakutkan.
Padahal, ironi terbesarnya adalah Indonesia dinobatkan dan dijuluki sebagai paru-paru dunia. Hutan kita adalah jantung oksigen bagi planet ini. Lantas apa jadinya jika paru-paru itu sendiri yang terganggu, dibakar, dan dirusak oleh tangan-tangan serakah?
Setelah paru-parunya terganggu, berarti dunia akan mengalami sakit. Ketika paru-paru dunia sakit, yang menderita bukan hanya kita di Kalimantan. Anak-anak terpaksa sekolah diliburkan, ibu hamil dan lansia menjadi kelompok paling rentan, penerbangan tertunda, ekonomi melambat, dan citra Indonesia di mata internasional tercoreng.
Kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi dengan membiarkan asap ini terus mengepul. Pemerintah tidak bisa lagi bekerja setengah hati. Jika kondisi ini masih tidak bisa diatasi, tetapkan saja sebagai Bencana Nasional.
Perlu satgas terpadu yang bukan hanya memadamkan api, tapi memburu aktor intelektual di balik pembakaran korporasi maupun perorangan. Transparansi data hotspot, sanksi pencabutan izin, dan denda maksimal harus menjadi senjata utama, bukan sekadar wacana.
Sudah saatnya kita sadar, menjaga hutan bukan tugas pemerintah saja, tapi tugas kita bersama. Jika kita terus diam, maka kita ikut membiarkan paru-paru dunia ini mati perlahan. Jangan tunggu sampai kita semua tidak bisa lagi bernapas untuk baru bertindak.










