Headline

Kelangkaan Solar Subsidi Lumpuhkan Ekonomi Seruyan, Fraksi PDIP DPRD: Pemda Harus Cepat Bertindak

SERUYAN, ProBorneo.id Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar bersubsidi kembali melanda Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Antrean kendaraan mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sejak awal Mei 2026, melumpuhkan aktivitas ekonomi warga hingga nelayan pesisir.

Ketua Fraksi PDIP DPRD Seruyan, Subani, menyebut dampak kelangkaan ini sudah sangat serius. Sektor transportasi, logistik, dan perikanan menjadi yang paling terpukul.

“Ekonomi masyarakat jelas terganggu. Truk pengangkut sembako terlambat, biaya logistik membengkak, nelayan tidak bisa melaut karena tidak dapat BBM. Kalau dibiarkan berlarut, harga kebutuhan pokok pasti ikut naik,” tegas Subani, Rabu 7/5/2026.

Di SPBU Kuala Pembuang dan Hanau, antrean truk dan pikap mengular hingga ratusan meter. Sebagian pengendara mengaku sudah menunggu sejak subuh, namun pukul 10.00 WIB solar sudah habis.

Dampak terberat dirasakan nelayan. Warga Desa Sungai Bakau dan Tanjung Rangas mengaku sudah tiga hari tidak melaut.

“Sekali melaut butuh 40 liter solar. Sudah antre dari subuh, tapi tetap tidak kebagian. Kalau begini terus, kami tidak bisa kerja,” ujar Junaidi, nelayan Desa Sungai Bakau.

Sopir angkutan barang juga mengeluh. Waktu habis di jalan hanya untuk antre BBM. “Sehari habis buat antre. Muatan telat, ongkos malah tekor karena terpaksa beli solar eceran Rp12.000 per liter, padahal HET cuma Rp6.800,” keluh Herman, sopir pikap.

Subani mendesak Pemerintah Kabupaten Seruyan segera turun tangan. Ia meminta Pemda berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga dan dinas teknis untuk memastikan pasokan Solar Subsidi sesuai kebutuhan riil masyarakat.

“Pemda Seruyan jangan diam. Panggil Pertamina dan Dinas terkait. Telusuri penyebabnya, apakah kuota kurang, distribusi macet, atau ada penyelewengan. Jangan sampai rakyat kecil yang jadi korban,” katanya.

Ia juga menyoroti maraknya solar eceran dengan harga hampir dua kali lipat. “SPBU kosong, tapi di pinggir jalan solar banyak dijual Rp12.000. Ini tidak beres. Pengawasan harus diperketat agar subsidi tepat sasaran,” tambah Subani.

Fraksi PDIP DPRD Seruyan berencana memanggil Dinas Perdagangan dan instansi teknis untuk rapat dengar pendapat dalam waktu dekat. Subani mendorong Pemda menerbitkan kebijakan pengawasan penyaluran BBM subsidi, termasuk penertiban jalur distribusi.

Hingga berita ini ditulis, Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kelangkaan Solar Subsidi di Seruyan.

Admin

Recent Posts

Tolak KUP, Warga Desa Bangkal Tuntut RDP dengan PT BAP Soal Hak Plasma 20%

SERUYAN, ProBorneo.id - Warga Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, secara tegas menolak skema…

2 hari ago

Pemkab Seruyan Ambil Sikap Soal Tuntutan Plasma PT BAP, Pertemuan Resmi Dijadwalkan 31 Agustus

SERUYAN, ProBorneo.id - Pemerintah Kabupaten Seruyan bergerak cepat merespons dinamika yang berkembang terkait tuntutan kewajiban…

2 hari ago

Ancam Tutup Pabrik dan Kantor PT BAP, Warga Seruyan-Kotim Layangkan Surat Pemberitahuan Aksi Damai

SERUYAN, ProBorneo.id - ​Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Seruyan-Kotim Memanggil Plasma 20% (Masyarakat Bersatu Sekabupaten…

3 hari ago

DAD Seruyan Raya Bentuk Pengurus BATAMAD, Alimansyah Terpilih Secara Aklamasi

SERUYAN, ProBorneo.id – Dewan Adat Dayak atau DAD Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan resmi membentuk…

3 hari ago

Koperasi Sangking Bahanyi Bangkal Tolak KUP, Desak Realisasi Plasma 20 Persen dan Siapkan Aksi Massa

SERUYAN, ProBorneo. id - Perjuangan masyarakat di sejumlah desa untuk mendapatkan hak plasma 20 persen…

4 hari ago

Pemdes Bangkal Gelar Pertemuan Tindak Lanjut Hasil Mediasi Koperasi Sangking Bahanyi Dengan PT. BAP

SERUYAN, ProBorneo.id  – Pemerintah Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya menggelar pertemuan dengan masyarakat setempat. Pertemuan…

5 hari ago