PALANGKA RAYA, ProBorneo.id – Dari jantung Pulau Borneo, saya menulis surat ini dengan hati yang berat. Nama saya Ririen Binti. Selama 30 tahun saya hidup dari tinta dan kertas. Saya membesarkan anak, menyekolahkan mereka, dari upah menulis kebenaran.
Di hutan, di pesisir, di desa-desa terpencil Kalimantan, saya belajar bahwa satu berita bisa menyelamatkan sawah warga dari penggusuran, bisa membuat jalan desa yang rusak akhirnya diperbaiki.Profesi ini bukan pekerjaan glamor.
Hujan, panas, jalan berlumpur, ancaman, kami hadapi. Tapi kami tetap berangkat. Karena ada suara-suara kecil yang tak terdengar jika bukan kami yang menyampaikannya. Itulah mengapa saya sedih sedalam-dalamnya ketika mendengar Bapak menyebut profesi kami dengan label “Londo Ireng”.
Rasanya seperti 30 tahun pengabdian kami dipertanyakan. Seolah keringat, air mata, dan risiko yang kami tanggung dianggap pengkhianatan.Padahal Bapak, kami bukan musuh. Kami bukan kaki tangan asing. Kami adalah anak bangsa yang lahir dari rahim republik ini.
Dulu, jauh sebelum merdeka, para jurnalis bumiputera sudah mengangkat pena melawan penjajah. Tirto Adhi Soerjo pernah berpesan:
“Pers tugasnya memajukan persatuan, mencari kemajuan, dan menyuarakan suara-suara yang tak terdengar.”
Senior-senior kami ikut mendirikan negeri ini. Dan kami, generasi setelahnya, hanya ingin merawatnya. Selama tiga dekade, sepuluh ribu lebih berita saya tulis. Tidak ada satu pun yang saya tulis untuk menghancurkan bangsa. Semua saya tulis karena saya cinta Indonesia. Kritik yang kami sampaikan bukan makar.
Itu bentuk cinta tertinggi. Karena kami ingin pemerintah tetap di jalan demokrasi, transparansi, dan keadilan. Bapak Presiden, saya tahu memimpin negeri ini tidak mudah. Tekanan datang dari segala arah. Tapi tolong, jangan jadikan pers sebagai lawan. Rangkullah kami sebagai mitra.
Karena di ujung pena kami, ada nasib rakyat kecil di Tanah Borneo dan seluruh pelosok negeri yang menitipkan harapannya.
Label “Londo Ireng” melukai. Ia bisa menjadi stigma yang membuat anak-anak muda takut jadi jurnalis, dan membuat masyarakat tidak percaya lagi pada informasi yang benar. Padahal kemerdekaan pers adalah napas demokrasi yang sama-sama kita jaga sejak reformasi.
Saya hanya seorang wartawan dari Borneo. Tidak punya kuasa, tidak punya jabatan. Yang saya punya hanya kejujuran dan kecintaan pada negeri ini. Izinkan kami terus bekerja, mengawasi, mengingatkan, dan memberitakan, agar Indonesia yang Bapak pimpin semakin kuat dan bermartabat.
Terima kasih atas perhatian Bapak. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi Bapak kearifan dan kebijaksanaan dalam memimpin. Dan semoga kita bisa kembali duduk bersama, sebagai anak bangsa, untuk Indonesia.
Oleh: Ririen Binti (Wartawan dari Tanah Borneo)













