Olahraga

Kita Terlalu Mencintai Sepak Bola Tapi Si Kulit Bundar Sedang Sekarat Ditangan Kita Sendiri

Pojok Opini
ProBorneo.id – Dulu kau dipuja di setiap sudut gang. Lapangan tanah, gawang dari bambu, sorak anak-anak pecah sampai maghrib tiba. Tak perlu sepatu mahal, cukup sandal jepit yang rela putus demi mengejar bola plastik. Bahagia itu sederhana: gol, lalu tertawa.

Kini nasibmu berubah, wahai si kulit bundar. Di layar kaca kau masih raja. Liga Inggris jam 2 pagi, El Clasico, derby Manchester — rela begadang, rela mata panda. Kopi jadi teman, grup WhatsApp jadi stadion. Kita analisis, kita debat, kita marah ke wasit seolah dia dengar dari seberang benua.

Tapi di dunia nyata, lapangan makin sempit. Lahan bola jadi ruko. Tarkam digelar di aspal panas, lutut lecet jadi sertifikat. Tiket stadion resmi? Harganya bikin mikir dua kali. Belum lagi drama federasi, mafia skor, gas air mata. Cinta kita diuji, bukan cuma oleh skor, tapi oleh sistem.

Penghobi bola sekarang terbelah. Ada yang jadi penonton setia di sofa, langganan OTT, hafal statistik tapi lupa rasanya menendang bola. Ada yang tetap main, futsal tiap Rabu malam, napas ngos-ngosan tapi pulang dengan jersey basah dan senyum lepas.

Ada juga yang memilih jadi manajer di Football Manager, lebih jago jual-beli pemain daripada PSSI, Ironis memang. Kita mencintai permainan paling merakyat, tapi makin jauh dari rumputnya. Anak-anak lebih kenal cara bermain game online ketimbang cara menggiring bola.

Kita hafal harga transfer 2 triliun, tapi sulit patungan sewa lapangan 200 ribu. Namun kau belum mati, si kulit bundar. Di desa, kau masih bergulir di tanah merah setiap Agustus.

Di komplek, bapak-bapak masih main “trofeo bapak-bapak” U40+ meski besoknya encok. Di kafe, nobar tetap ramai, meski yang dibahas kadang lebih banyak wasit VAR daripada golnya. Karena bagi penghobi, sepak bola bukan cuma olahraga. Dia pelarian, dia identitas, dia alasan kumpul. Kalah-menang itu biasa, tapi rindu main bola itu luar biasa.

Oh si kulit bundar, nasibmu kini memang tak sesederhana dulu. Kau terjepit antara industri miliaran dan rindu lapangan kampung. Tapi selama masih ada satu anak yang menendang botol bekas sambil teriak “Goool!”, selama masih ada yang rela hujan-hujanan demi nonton tim kebanggaan, kau akan tetap hidup.

Sebab cinta pada sepak bola tak butuh stadion megah. Cukup tanah lapang, dua batu sebagai gawang, dan hati yang tak pernah lelah berharap.

Admin

Recent Posts

Simpan Sabu di Bawah Jok Mobil, Pengedar di Desa Paren Danau Sembuluh Dibekuk

SERUYAN, ProBorneo.id - Penyelidikan intensif Satresnarkoba Polres Seruyan berbuah hasil. Seorang terduga pengedar narkotika jenis…

14 jam ago

Polda Kalteng Lakukan Studi Kelayakan Pembentukan Dua Polsek Baru di Wilayah Hukum Polres Seruyan

SERUYAN, ProBorneo.id - Tim Biro Perencanaan dan Anggaran (Rena) Polda Kalimantan Tengah melakukan studi kelayakan…

15 jam ago

Subani: Menteri Kehutanan Cuma Numpang Selfie di Tengah Bencana, Menteri Terburuk Sepanjang Sejarah

SERUYAN, ProBorneo.id - Anggota DPRD Seruyan dari Fraksi PDI Perjuangan, Subani, melontarkan kritik pedas terhadap…

1 hari ago

DPRD Seruyan Tagih Bantuan Pusat: Janagn Biarkan Kami Berjuang Sendiri Lawan Karhutla

SERUYAN, ProBorneo.id - Anggota DPRD Kabupaten Seruyan dari Fraksi PDI Perjuangan, Subani, mempertanyakan sikap pemerintah…

1 hari ago

SDN 3 Bangkal Akui Salah Komunikasi, Akhirnya Pulangkan Murid Lebih Awal Karena Asap Pekat

SERUYAN, ProBorneo.id - Kabut asap pekat yang masih menyelimuti wilayah Seruyan Raya, khususnya di Desa…

4 hari ago

PARU-PARU DUNIA SEDANG SAKIT SESAK OLEH ASAP PEKAT

  SERUYAN, ProBorneo.id - Kabut asap kian hari bukannya berkurang, malah sebaliknya, semakin pekat menyelimuti…

4 hari ago