Kita Terlalu Mencintai Sepak Bola Tapi Si Kulit Bundar Sedang Sekarat Ditangan Kita Sendiri

"Oh Si Kulit Bundar, Nasibmu Kini"

Olahraga18 Dilihat
banner 468x60
Pojok Opini 
ProBorneo.id – Dulu kau dipuja di setiap sudut gang. Lapangan tanah, gawang dari bambu, sorak anak-anak pecah sampai maghrib tiba. Tak perlu sepatu mahal, cukup sandal jepit yang rela putus demi mengejar bola plastik. Bahagia itu sederhana: gol, lalu tertawa.

Kini nasibmu berubah, wahai si kulit bundar. Di layar kaca kau masih raja. Liga Inggris jam 2 pagi, El Clasico, derby Manchester — rela begadang, rela mata panda. Kopi jadi teman, grup WhatsApp jadi stadion. Kita analisis, kita debat, kita marah ke wasit seolah dia dengar dari seberang benua.

Tapi di dunia nyata, lapangan makin sempit. Lahan bola jadi ruko. Tarkam digelar di aspal panas, lutut lecet jadi sertifikat. Tiket stadion resmi? Harganya bikin mikir dua kali. Belum lagi drama federasi, mafia skor, gas air mata. Cinta kita diuji, bukan cuma oleh skor, tapi oleh sistem.

banner 336x280

Penghobi bola sekarang terbelah. Ada yang jadi penonton setia di sofa, langganan OTT, hafal statistik tapi lupa rasanya menendang bola. Ada yang tetap main, futsal tiap Rabu malam, napas ngos-ngosan tapi pulang dengan jersey basah dan senyum lepas.

Baca Juga :  Meriahkan HUT RI ke-80, Pemuda Kuala Kuayan Gelar Trofeo Sepak Bola

Ada juga yang memilih jadi manajer di Football Manager, lebih jago jual-beli pemain daripada PSSI, Ironis memang. Kita mencintai permainan paling merakyat, tapi makin jauh dari rumputnya. Anak-anak lebih kenal cara bermain game online ketimbang cara menggiring bola.

Kita hafal harga transfer 2 triliun, tapi sulit patungan sewa lapangan 200 ribu. Namun kau belum mati, si kulit bundar. Di desa, kau masih bergulir di tanah merah setiap Agustus.

Di komplek, bapak-bapak masih main “trofeo bapak-bapak” U40+ meski besoknya encok. Di kafe, nobar tetap ramai, meski yang dibahas kadang lebih banyak wasit VAR daripada golnya. Karena bagi penghobi, sepak bola bukan cuma olahraga. Dia pelarian, dia identitas, dia alasan kumpul. Kalah-menang itu biasa, tapi rindu main bola itu luar biasa.

Baca Juga :  Galeri Foto Klub Sepakbola Indonesia Persija Jakarta

Oh si kulit bundar, nasibmu kini memang tak sesederhana dulu. Kau terjepit antara industri miliaran dan rindu lapangan kampung. Tapi selama masih ada satu anak yang menendang botol bekas sambil teriak “Goool!”, selama masih ada yang rela hujan-hujanan demi nonton tim kebanggaan, kau akan tetap hidup.

Sebab cinta pada sepak bola tak butuh stadion megah. Cukup tanah lapang, dua batu sebagai gawang, dan hati yang tak pernah lelah berharap.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *